Berita

AS dan Jepang dan EU Capai Kesepakatan Dagang! Saham Amerika Serikat ATH Lagi?!

AS dan Jepang dan EU Capai Kesepakatan Dagang! Saham Amerika Serikat ATH Lagi?!

Pasar saham AS bergerak MENGUAT pada perdagangan 1 minggu terakhir (21/07-25/07), dimana indeks AS ditutup  kompak menguat. Pasar saham AS kembali lagi mencatatkan rekor baru pada pekan ini, dengan kenaikan indeks S&P 500 +1.33% selama seminggu belakangan ini dan ditutup pada level 6,388. Kenaikan ini didorong dari progress perundingan tarif yang berjalan lebih mulus dari yang dibayangkan, dengan perundingan dengan Jepang berjalan dengan baik disusul oleh EU. AS dan China juga akan segera melakukan perundingan baru, dan pasar juga sedang menunggu keputusan AS-EU. Selain itu, data kinerja keuangan dari saham-saham besar seperti GOOGL masih menunjukan performa yang bagus, meski TSLA kurang menunjukan performa yang baik. 

Performa Indeks Bursa AS 1W

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
+1.33%+1.20%+0.71%

Top Gainer 1W

IVZ+21.88%
LW+20.51%
BKR+16.36%
DECK+14.90%
NEM+13.64%

Berita Ekonomi & Industri

Saham AS mencetak rekor baru setelah S&P 500 dan Nasdaq rally dipicu optimisme seputar kesepakatan dagang. Indeks S&P 500 naik sekitar 0.7 % dan Nasdaq menguat 0.46% di tengah harapan kesepakatan AS‑China dan AS‑UE yang mendorong sentimen global. Lonjakan ini juga didorong oleh data ekonomi positif serta gelombang earnings kuartal kedua yang solid dari berbagai sektor, memperkuat optimisme investor di tengah ketidakpastian.

Pemerintah AS dan Jepang mencapai kesepakatan dagang menjelang tenggat 1 Agustus, dengan pengurangan tarif impor Jepang dari 25% menjadi 15% serta komitmen investasi Tokyo senilai US$ 550 miliar ke pasar AS, termasuk rencana pembangunan joint venture proyek LNG di Alaska. Kesepakatan ini meredakan tekanan tarif dan memicu reli pasar saham Jepang, dengan indeks Nikkei melonjak 2,6% dan saham produsen mobil seperti Toyota naik 11%, Honda 9%, serta Nissan 8%, sementara saham Hyundai dan Kia di Korea Selatan juga menguat sekitar 6%. Jepang mencatat surplus perdagangan mencapai US$ 70 miliar tahun lalu dari total perdagangan bilateral US$ 230 miliar, dan kesepakatan ini memberi peluang bagi pembicaraan lanjutan dengan negara kawasan Asia serta Uni Eropa. 

Amerika Serikat dan Uni Eropa berhasil mencapai kesepakatan dagang yang menetapkan tarif rata-rata 15% untuk sebagian besar produk ekspor Eropa ke AS, menggantikan ancaman tarif 30% yang sebelumnya diberikan AS. Produk seperti mobil, semikonduktor, dan farmasi akan dikenakan tarif 15%, sementara sektor strategis seperti pesawat terbang, peralatan semikonduktor, bahan kimia tertentu, dan beberapa hasil pertanian akan dikecualikan dari tarif. Untuk baja dan aluminium, tarif tetap di level 50% namun akan dievaluasi ulang dan berpotensi digantikan skema kuota. Kesepakatan ini disambut positif oleh pasar karena mengurangi risiko eskalasi dagang dan membuka peluang bagi pertumbuhan profit perusahaan.

Harga emas stabil pada level tertinggi sejak sebulan terakhir sekitar US$ 3,390  per ounce setelah USD mengalami pelemahan dan yield obligasi AS turun, sehingga membuat logam mulia semakin menarik sebagai aset safe haven. Kontrak berjangka emas AS juga bertahan di kisaran US$ 3,405 per ounce saat para investor mempertimbangkan peluang kesepakatan dagang menjelang tenggat 1 Agustus. Sementara itu, logam lainnya mengalami pergerakan mixed dengan perak turun 0.2% ke US$ 38.84 per ounce, platinum naik 0.8% ke US$ 1,449 dan palladium turun 0.2% ke US$ 1,262.

Negosiasi tarif antara AS dan China akan dilanjutkan di Stockholm pada akhir Juli 2025 dengan tujuan memperpanjang gencatan sementara tarif sebelum batas waktu 12 Agustus yang dapat memicu kenaikan tarif hingga lebih dari 100% . Pertemuan pimpinan perdagangan AS dan China yang dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng diharapkan membahas pengurangan tarif sekitar 55% dan pengurangan kendala ekspor teknologi seperti chip. Jika perundingan tersebut berjalan lancar, pasar saham akan mendapatkan sentimen positif, terutama saham-saham yang terkena dampak besar di sektor manufaktur dan teknologi seperti AAPL dan COST.

Menteri Keuangan AS Scott  Bessent menyatakan bahwa Presiden Trump tidak berencana memecat Ketua The  Fed Jerome  Powell sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei 2026, dan bahkan mengusulkan agar Powell tetap melanjutkan masa jabatan jika memilih bertahan. Meski demikian, administrasi telah memulai proses formal untuk mencari pengganti Powell pada musim gugur, sembari mendorong agar kursi gubernur yang ditinggalkan Powell diisi oleh figur baru untuk menghindari kebingungan pasar. Sebelumnya, USD melemah dikarenakan kekhawatiran penurunan jabatan Powell sebagai ketua The Fed.

ECB memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan pada 2.0% pada pertemuan Juli 2025 sebagai respons terhadap ketidakpastian seputar kesepakatan dagang AS-Uni Eropa. Diperkirakan inflasi di zona euro masih di atas target dan pertumbuhan ekonomi melambat, sehingga bank sentral memilih pendekatan wait‑and‑see terlebih dahulu. Meski begitu anggota Dewan Gubernur menyampaikan bahwa keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada data inflasi dan perkembangan negosiasi perdagangan internasional.

Berita Emiten

1. VZ

Verizon (VZ) membukukan kinerja solid di 2Q25 dengan adjusted EPS sebesar US$1.22 dan revenue mencapai US$34,5 miliar, melebihi ekspektasi analis. Perusahaan mencatat penambahan 293.000 pelanggan broadband baru, didukung oleh strategi bundling dan akuisisi Frontier senilai US$20 miliar, meskipun kehilangan 9 ribu pelanggan postpaid. Manajemen menaikkan guidance FY25 dengan proyeksi pertumbuhan adjusted earnings di kisaran 1 % hingga 3 % dan free cash flow sebesar US$19,5 miliar sampai US$20,5 miliar, mendorong saham naik sekitar 4 %.

2. GM

General Motors (GM) memperkirakan potensi dampak negatif sebesar US$1.0 miliar terhadap laba tahunan akibat tarif baru Trump terhadap produk dari Uni Eropa dan China, termasuk kendaraan listrik dan komponen otomotif. Saham GM turun sekitar -8 % setelah pengumuman ini, meskipun perusahaan mempertahankan guidance FY25 dengan proyeksi adjusted earnings di kisaran US$8.5 hingga US$9.5 per saham. GM menyatakan sedang mengevaluasi kembali strategi rantai pasok globalnya, terutama sourcing baterai dan kendaraan listrik, guna meminimalkan dampak dari kebijakan tarif tersebut.

3. TSLA

Tesla (TSLA) membukukan pendapatan sebesar US$ 22.5 miliar pada 2Q25, turun -12% YoY dan menjadi penurunan pendapatan terbesar dalam lebih dari satu dekade, sementara laba bersih juga melemah -16% YoY menjadi US$ 1.17 miliar dan EPS turun ke US$ 0.40. Penjualan kendaraan anjlok hampir -16% YoY menjadi US$ 16.6 miliar dan pengiriman merosot -14% menjadi 384 ribu unit, oleh karena itu operating profit tertekan hingga turun -42% ke bawah US$ 1 miliar. Di tengah masa transisi ini Elon Musk tetap optimis terhadap pertumbuhan jangka panjang melalui ekspansi Robotaxi, peluncuran mobil murah mulai 2H25, serta produksi massal Cybertruck, Cybercab, dan robot berbentuk manusia Optimus mulai 2026.

4. GOOGL

Alphabet (GOOGL) mencatat pendapatan sebesar US$ 96.4 miliar pada 2Q25, naik +14% YoY, dengan laba bersih tumbuh +19% YoY menjadi US$ 28.2 miliar dan EPS sebesar US$ 2.31. Pendapatan dari search services mencapai US$ 54.2 miliar, YouTube menyumbang US$ 9.8 miliar, dan Google Cloud melonjak +32% menjadi US$ 13.6 miliar, mencerminkan pertumbuhan solid di seluruh segmen bisnis. Namun, kekhawatiran investor muncul karena CapEx meningkat dari US$ 75 miliar menjadi US$ 85 miliar tahun ini dan diperkirakan terus naik, seiring ekspansi agresif terhadap pengembangan infrastruktur AI dan cloud. Di sisi produk, fitur AI Overviews telah digunakan oleh lebih dari 2 miliar pengguna, AI Mode menjangkau 100 juta pengguna bulanan di AS dan India, dan Gemini mencatat 450 juta pengguna aktif bulanan. 

5. INTC

Saham Intel (INTC) anjlok -7% setelah merilis laporan kinerja 2Q25 yang menunjukkan tekanan berat dari biaya restrukturisasi dan impairment. Meskipun berhasil mencatatkan pendapatan US$12.9 miliar yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar, perusahaan justru membukukan rugi bersih sebesar US$2.9 miliar atau -US$0.67 per saham secara GAAP. Secara non-GAAP, Intel mencatatkan kerugian -US$0.10 per saham, jauh di bawah ekspektasi yang memperkirakan laba tipis US$0.01. Tekanan terbesar datang dari biaya restrukturisasi senilai US$1.9 miliar, impairment charge US$800 juta, dan beban satu kali sebesar US$200 juta. 

Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi

Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi  untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi.  Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Artikel Terkait