Pasar saham AS bergerak cenderung menguat pada perdagangan 1 minggu terakhir (14/07-18/07), dimana indeks AS ditutup menguat. Saat ini pasar tengah wait and see melihat data ekonomi AS yang akan rilis di pekan ini seperti PMI. Selain itu, CPI AS yang melihatkan kenaikan yang terkontrol juga menunjukan The Fed yang lebih siap menurunkan suku bunga. Earnings perusahaan perbankan AS juga terlihat masih sangat kuat dan melampaui ekspektasi pasar, meskipun proyeksi tahun ini lebih pesimis. Pada pekan ini, saham big caps seperti GOOGL dan TSLA akan merilis laporan keuangan tepatnya tanggal 24 Juli mendatang. Meskipun sudah mencapai level All Time High, saham AS diproyeksikan masih menguat pada pekan ini.
Performa Indeks Bursa AS 1W
S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
+0.67% | -0.01% | +1.47% |
Top Gainer 1W
IVZ | +15.14% |
SHOP | +11.44% |
WBD | +10.25% |
AMD | +10.09% |
C | +8.77% |
Berita Ekonomi & Industri
Investor tengah memantau data PMI dan inflasi global serta perkembangan kebijakan tarif AS di pekan ini, dengan perhatian khusus pada laporan corporate earnings AS seperti Alphabet (GOOG) dan Tesla (TSLA). Di Eropa, European Central Bank diperkirakan akan menahan suku bunga, tapi ancaman tarif dari AS menambah ketidakpastian dan bisa mempengaruhi keputusan kebijakan moneter. Sementara itu, Fed Governor Christopher Waller mendukung pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada akhir Juli karena momentum ekonomi melambat dan risiko lemahnya pasar tenaga kerja semakin nyata.
Data inflasi AS untuk Juni 2025 menunjukkan CPI naik 0.3% secara bulanan dan 2.7% (vs. 2.6% forecast) secara tahunan, tertinggi sejak Februari, meskipun masih sesuai perkiraan. Core CPI (tanpa makanan & energy) meningkat 0.2% bulan-ke-bulan dan 2.9% tahunan (vs. 3.0% forecast), mencerminkan tekanan inflasi yang sedang berlangsung.. Para analis menilai data ini memberi sinyal kepada Federal Reserve untuk menahan pemangkasan suku bunga minimal hingga September, karena meskipun inflasi tidak melonjak drastis, kondisi pasar tenaga kerja dan biaya tetap cukup kuat untuk menahan langkah agresif.
GDP China naik sebesar 5.2% YoY, mengalahkan proyeksi 5.1% meski sedikit melambat dari 5.4% di kuartal sebelumnya. Secara triwulanan, ekonomi bertumbuh 1.1%, ditopang oleh lonjakan produksi industri sebesar 6.8% di Juni, sementara penjualan ritel hanya tumbuh 4.8%, mencerminkan konsumsi yang masih lesu. Investasi aset tetap hingga akhir semester tumbuh 2.8%, namun sektor properti mengalami koreksi tajam dengan penurunan hingga 11.2%. Data ini menunjukkan ketahanan ekonomi China di tengah tekanan tarif AS dan krisis properti, meski tantangan seperti deflasi dan sentimen konsumen yang rapuh masih membayangi. Pemerintah kemungkinan akan menambah stimulus seiring pertumbuhan yang diperkirakan melambat ke kisaran 4.5%–4.0% pada paruh kedua tahun ini.
Presiden Trump disebut-sebut telah berdiskusi dengan beberapa anggota parlemen Republik tentang kemungkinan memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell, sebuah ide yang mendapat respons positif, meski Trump kemudian menyatakan tindakan tersebut “sangat tidak mungkin” kecuali ditemukan bukti fraud. Langkah ini memicu volatilitas pasar, indeks saham dan nilai tukar dolar sempat anjlok setelah kabar muncul, baru kemudian pulih setelah Trump membantah niatnya. Meski ia mengkritik Powell karena suku bunga acuan tinggi di kisaran 4.25 %–4.50 %, jauh dari targetnya di 1%.
Amerika Serikat mencatat kenaikan retail sales sebesar +0.6 % di Juni 2025, didorong oleh peningkatan pembelian mobil dan perbaikan rumah, sementara initial jobless claims mencatat level terendah sejak beberapa bulan terakhir, mencerminkan pasar tenaga kerja yang tetap solid. Angka-angka ini menegaskan bahwa consumer spending masih menjadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi meskipun menghadapi tekanan dari tarif impor dan inflasi. Hasil tersebut mendukung ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan menunda pemangkasan suku bunga hingga Q4 2025.
Berita Emiten
1. TSLA
Tesla (TSLA) merilis mobil Tesla model Y di India dengan harga termurah sebesar US$ 70,000. Harga ini tergolong sangat mahal dimana model Y biasanya dipasarkan pada harga US$ 40,000 di AS dan sekitar US$ 36,000 di China. Harga yang tinggi ini disebabkan oleh tarif impor mobil di India yang mencapai 100%. Keputusan Tesla ini cukup netral, dimana masih banyak tantangan yang harus dihadapi Tesla di pasar India. Seperti yang diketahui, pasar EV di India hanya sekitar 4% dari total pasar otomotif, meskipun memang India memiliki prospek yang besar sebagai pasar otomotif ketiga terbesar di dunia.
2. NVDA
Nvidia (NVDA) mengumumkan akan kembali membuka penjualan chip H20 GPU ke Tiongkok setelah mengajukan permintaan lisensi ke pemerintah AS, yang diperkirakan segera disetujui, serta memperkenalkan model baru RTX Pro yang sepenuhnya compliant dengan regulasi AS. Chip ini ditargetkan untuk aplikasi AI di smart factories dan logistik, sementara CEO Jensen Huang telah melakukan pertemuan dengan pejabat AS dan Tiongkok untuk memperkuat kolaborasi teknologi dan mendukung open‑source AI di panggung global.
3. JPM
JPMorgan (JPM) menunjukkan performa kuat di 2Q25 dengan net income mencapai US$15 miliar dan EPS sebesar US$4.96, melampaui ekspektasi yang diperkirakan US$4.48. Pendapatan perusahaan sebesar US$44.9 miliar, meski turun sekitar 10 % YoY, masih berhasil mengungguli estimasi sebesar US$43.86 miliar. Bank pun mencatat ROTCE yang solid di level 21 % dan menaikkan proyeksi net interest income untuk tahun ini menjadi sekitar US$95.5 miliar. CEO Jamie Dimon menekankan strategi reinvestasi dengan target ROTCE setinggi 70 % pada proyek digital, sementara CFO Jeremy Barnum menyebut belum melihat tanda-tanda kelemahan pasar secara signifikan.
4. WFC
Wells Fargo (WFC) mencetak laba bersih sebesar US$5.49 miliar di 2Q25, naik sekitar 12% YoY, seiring penurunan cadangan kerugian kredit menjadi US$1.01 miliar, terendah dibanding US$1.24 miliar tahun sebelumnya. Pendapatan non-bunga juga meningkat sekitar 9% menjadi US$696 juta, didorong oleh peningkatan fee dari kegiatan investment banking. Namun, kekhawatiran muncul setelah bank memangkas proyeksi net interest income untuk tahun ini dan memperkirakan akan tetap di level sekitar US$47.7 miliar, menyebabkan saham turun lebih dari 5% di pra-pasar meski kinerja laba melebihi ekspektasi.
5. ASML
ASML mencetak lonjakan pesanan kuartal kedua senilai €5.54 miliar, melampaui ekspektasi analis sebesar €4.44 miliar dan mendorong penjualan Q2 naik +23% menjadi €7.7 miliar, seiring permintaan kuat dari produsen chip AI seperti Nvidia dan TSMC serta pembelian oleh perusahaan Tiongkok. Meski demikian, perusahaan memperingatkan bahwa pertumbuhan pendapatan untuk 2026 belum dapat dipastikan karena ketidakpastian makroekonomi dan tarif, sehingga jika stagnasi terjadi, akan menjadi pertama kalinya sejak 2012 performa tahunan tidak tumbuh. Saham ASML merosot sekitar 8% setelah peringatan tersebut.
6. MS
Morgan Stanley mencatat kinerja solid di 2Q25 dengan pendapatan mencapai US$ 17.7 miliar, melampaui ekspektasi sebesar US$ 16.5 miliar, terutama berkat lonjakan pendapatan dari trading saham yang tumbuh 45% menjadi sekitar US$ 4.13 miliar. Laba per saham (EPS) tercatat sebesar US$ 2.60, naik 29% YoY dan melampaui estimasi sebesar US$ 2.21, mencerminkan profitabilitas tinggi meskipun di tengah tekanan biaya operasional dan peningkatan cadangan kerugian kredit sebesar US$ 135 juta. Segmen Institutional Securities tumbuh kuat didukung kenaikan pendapatan dari investment banking sebesar 8%, sementara Wealth Management juga mencatatkan pertumbuhan 6% menjadi US$ 7,3 miliar.
7. PEP
PepsiCo mencatat kinerja kuartal kedua yang solid dengan laporan keuangan menunjukkan EPS US$2.12, melampaui ekspektasi sekitar US$2.03, serta pendapatan mencapai US$22.73 miliar, sedikit di atas estimasi US$22.25 miliar. Meski penjualan di Amerika Utara mengalami tekanan, snack turun -1 % dan minuman turun -2 %, pertumbuhan di pasar internasional yang kuat dan nilai tukar dolar yang melemah mendukung kinerja global. Perusahaan juga sedang meningkatkan efisiensi melalui penutupan dua pabrik dan ekspansi portofolio produk sehat serta minuman protein baru. PepsiCo memperkirakan adjusted EPS tahunan akan turun -1.5 %, lebih baik dari proyeksi sebelumnya yang cenderung negatif, sehingga sahamnya terapresiasi hingga 7 % pasca-rilis laporan.
Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi
Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.