Pasar saham AS bergerak mix pada perdagangan 1 minggu terakhir (07/07-11/07), dimana indeks AS ditutup beragam. Banyak faktor yang mempengaruhi perdagangan minggu lalu, yang terutama adalah keputusan dari tarif yang mulai keluar untuk berbagai negara seperti Jepang dan Korea Selatan yang terkena tarif 25%, dan berbagai negara di ASEAN juga dikenakan tarif 20-40%. Ditengah tarif ini, S&P 500 kembali mencatatkan all time high, salah satu pendorongnya adalah saham Nvidia (NVDA) yang mana juga turut mencapai all time high, menjadikan Nvidia perusahaan pertama di dunia yang bernilai US$ 4 triliun. Selain itu, saham-saham penerbangan juga turut meningkat signifikan atas earnings dari Delta Airlines (DAL) yang membaik. Saat ini market masih wait and see dan menunggu hasil CPI AS pada hari selasa malam (15/07) mendatang.
Performa Indeks Bursa AS 1W
S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
+0.01% | -0.96% | +0.46% |
Top Gainer 1W
TPR | +12.58% |
DAL | +12.18% |
PTC | +11.31% |
AES | +10.83% |
COIN | +10.48% |
Berita Ekonomi & Industri
Pasar global kembali volatil pasca pengumuman tarif Trump. Beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan mendapatkan tarif 25%, sedangkan banyak dari negara di ASEAN juga dikenakan tarif antara 20%-40%. Kebijakan ini mendorong pasar kembali melakukan tekanan jual atas ketakutan perlambatan ekonomi di berbagai negara. Meski demikian, tekanan jual kali ini lebih landai akibat pasar yang sudah melakukan antisipasi terlebih dahulu. Selain itu, Trump masih tetap terbuka untuk perundingan lanjutan dengan negara yang sudah terkena tarif final, seperti Korea dan Jepang yang langsung mengajukan perundingan dengan Gedung Putih.
Presiden Trump mengumumkan bahwa mulai 1 Agustus AS akan menaikkan tarif impor dari Kanada menjadi 35%, naik dari sebelumnya 25%, sebagai tekanan soal perdagangan dan kekhawatiran terkait fentanyl. Selain itu, Trump mengancam akan memberlakukan tarif umum 15–20% pada sebagian besar mitra dagang lainnya hingga 23 negara, termasuk potensi tarif tambahan terhadap Brasil, Jepang, dan Korea Selatan. Langkah ini memicu penguatan dolar terhadap mata uang global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap eskalasi perang dagang, meski beberapa pengecualian seperti barang USMCA dan komoditas energi serta pupuk masih dipertimbangkan untuk tidak dikenakan tarif.
Trump mengenakan tarif 30% untuk produk Uni Eropa. Tarif ini mencakup produk senilai lebih dari US$120 miliar per tahun. Langkah ini mencakup sektor otomotif, produk makanan olahan, minuman beralkohol, dan barang industri lainnya, dengan tujuan menekan praktek subsidi dari Eropa yang dianggap merugikan produsen AS. White House menyatakan bahwa tarif ini bisa meningkat hingga 35% jika UE tidak merespons dengan perjanjian dagang baru sebelum akhir 3Q25. Langkah ini menambah tekanan pada hubungan dagang AS-Eropa dan memicu aksi jual di pasar Eropa, dengan indeks DAX dan CAC 40 masing-masing turun 1.7% dan 1.4% pada sesi perdagangan terakhir.
Pemerintahan AS mengumumkan akan menerapkan tarif impor sebesar 50 % pada tembaga, kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan produksi domestik tembaga ini dalam sektor kendaraan listrik, pertahanan, dan infrastruktur. Pengumuman ini langsung memicu lonjakan harga futures tembaga di Comex lebih dari +12 %, mencatat rekor tertinggi harian sejak 1968, sementara saham produsen lokal seperti Freeport‑McMoRan (FCX) mengalami kenaikan sekitar 5 % sebelum meredam sedikit penutupan. Tarif ini berpotensi mulai berlaku pada akhir Juli atau paling lambat 1 Agustus.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi return indeks S&P 500 menjadi 3% dalam tiga bulan, 6% dalam enam bulan, dan 11% dalam jangka waktu satu tahun, dengan target level indeks di angka 6,900. Revisi ini didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih cepat, penurunan imbal hasil obligasi, serta kekuatan saham-saham berkapitalisasi besar yang dinilai mampu menjaga performa pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Investor global kembali memburu ETF emas fisik pada 1Q25 dengan arus masuk mencapai US$ 38.0 miliar, tertinggi dalam lima tahun terakhir, mendorong peningkatan kepemilikan sebesar 397.1 ton menjadi total 3,615.9 ton hingga akhir Juni. Fund asal AS menambah 206.8 ton, sementara fund di Asia menyumbang 104.3 ton atau 28% dari total global meskipun hanya menguasai 9% aset, ini menandakan naiknya demand untuk emas di Asia. Reli ini dipicu oleh kekhawatiran geopolitik dan tarif internasional yang meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven, dengan harga spot emas melonjak sekitar 26% sepanjang tahun dan sempat menyentuh rekor US$ 3.500 per ounce pada April.
Hanya 2 pejabat The Fed setuju pemangkasan suku bunga pada pertemuan selanjutnya di bulan Juli, sementara mayoritas peserta memilih menunggu data inflasi dan dampak tarif impor untuk menjadi lebih jelas. Mereka menyuarakan kekhawatiran bahwa tarif Trump bisa memicu tekanan inflasi yang tak terduga. Saat ini suku bunga The Fed berada pada level 4.5%, dimana mayoritas pejabat The Fed hanya memperkirakan 1x pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Hal ini menunjukan market yang masih wait and see melihat kebijakan Donald Trump.
Berita Emiten
1. TSLA
Saham Tesla turun hampir 8.0% setelah Elon Musk mengumumkan rencana pembentukan “America Party” yang memicu kekhawatiran investor terhadap fokus dan komitmennya terhadap perusahaan di tengah tekanan operasional yang kuat. Sejak mencapai puncaknya pada Desember, harga saham Tesla telah turun sekitar -35.0%. Penurunan ini bersamaan dengan kontraksi pengiriman mobil selama dua kuartal berturut-turut dan sejumlah spekulasi tentang potensi pengurangan subsidi kendaraan listrik yang dapat mempengaruhi margin.
2. NVDA
Nvidia (NVDA) mencetak sejarah sebagai perusahaan publik pertama yang mencapai valuasi pasar sebesar US$4 triliun, berkat dominasi chip AI-nya yang mendorong sahamnya naik ke rekor tertinggi di kisaran US$164 per lembar meskipun ditutup pada US$ 162. Sejak mencapai valuasi US$1 triliun pada Juni 2023, kapitalisasi pasar perusahaan ini telah mengalami 3x lipat hanya dalam waktu sekitar satu tahun, melampaui laju pertumbuhan Apple dan Microsoft. Nvidia tidak hanya menjadi simbol revolusi AI, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai saham paling berpengaruh di indeks S&P 500 dengan bobot lebih dari 7%, dan bertahan sebagai satu-satunya raksasa teknologi yang mencapai valuasi ini.
3. MSFT
OpenAI (MSFT) merilis browser baru yang dirancang untuk menentang dominasi Google Chrome, dengan menawarkan fitur-fitur canggih berbasis AI seperti contextual suggestions, pengelolaan tab pintar, serta perlindungan privasi yang lebih kuat. Browser ini menyasar pengguna yang menginginkan pengalaman browsing lebih efisien dan terintegrasi langsung dengan teknologi kecerdasan buatan, memperkuat posisi OpenAI di ranah consumer tools berbasis AI. Peluncuran ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperluas ekosistemnya di luar chatbot dan aplikasi enterprise.
4. DAL
Saham maskapai AS melonjak tajam pada Jumat setelah Delta Air Lines (DAL) melaporkan kinerja keuangan 2Q25 yang melebihi ekspektasi pasar dan secara resmi on-track ke target kinerja tahunan yang sempat diturunkan. Keberhasilan Delta ini memicu euforia di sektor penerbangan, mendorong saham United Airlines (UAL) naik 14.3%, American Airlines melesat 12.7%, dan Southwest Airlines (LUV) menguat 8.1%. Investor langsung semangat begitu melihat permintaan perjalanan udara masih tetap kuat, walau biaya operasional lagi tinggi dan kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil.
5. KHC
Kraft Heinz dikabarkan tengah mempersiapkan spin-off bisnis grocery-nya termasuk merek ikonik Kraft menjadi entitas terpisah yang nilainya bisa mencapai US$20 miliar. Setelah spin off, perusahaan induk akan lebih fokus pada lini saus dan condiment seperti Heinz ketchup dan Grey Poupon. Meskipun rencana ini belum final, pasar menyambut positif kabar tersebut, terlihat dari kenaikan harga saham perusahaan sekitar 2-4% pada perdagangan Jumat (11/07).
Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi
Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.