Berita

Deadline Tarif Ditunda, Saham AS Berpotensi Lanjutkan Rally!

Deadline Tarif Ditunda, Saham AS Berpotensi Lanjutkan Rally!

Pasar saham AS mengalami penguatan signifikan pada perdagangan 1 minggu terakhir (30/06-04/07), dimana indeks AS kompak naik tajam. Saham AS melanjutkan rally setelah perundingan dagang AS dan beberapa negara mulai melihat jalan tengahnya. Selain itu, deadline tarif juga diundur, dimana sebelumnya efektif 9 Juli, saat ini 1 Agustus guna memberikan waktu ke negara-negara untuk melakukan perundingan internal dengan AS. Selain itu, data ketenagakerjaan AS menunjukan angka yang ekspansif, dimana ini menunjukan ekonomi AS semakin menguat. Namun, data ini juga menjadikan The Fed lebih enggan untuk menurunkan suku bunga. Selain itu, negara-negara di Asia masih mengalami kontraksi di sektor industri akibat ketidakpastian tarif yang membuat para produsen menunda produksi pabrik. 

Performa Indeks Bursa AS 1W

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
+2.09%+3.04%+1.90%

Top Gainer 1W

NKE+24.09%
DDOG+18.12%
FSLR+18.00%
RCL+17.15%
HPE+14.76%

Berita Ekonomi & Industri

Pemerintahan AS mengumumkan penundaan tanggal efektif tarif menjadi tanggal 1 Agustus 2025. Penundaan ini guna memberi waktu negara-negara yang masih belum mencapai kesepakatan dagang dengan AS. Hingga saat ini baru Inggris dan Vietnam yang sudah 100% selesai dengan kesepakatan, dimana Jepang, China, India, dan Eropa masih dalam tahap perundingan akhir.  Struktur tarif tersebut mencakup beban dasar 10%, tambahan hingga 50%, bahkan opsi eskalasi sampai 70% dan penalti 10% untuk negara-negara yang mendukung agenda BRICS. Pemerintah AS memprioritaskan 18 mitra dagang utama yang mencakup 95% dari defisit perdagangan negara itu, sambil mengirimkan surat peringatan ke sekitar 100 negara lainnya agar segera menyesuaikan posisi mereka. 

Pertumbuhan lapangan kerja di AS pada Juni 2025 tercatat solid dengan data Non-Farm Payroll pada level 147 ribu, jauh di atas ekspektasi 110 ribu. Sementara tingkat pengangguran turun tipis ke 4.1% dibawah ekspektasi 4.3%. Namun, di balik angka pekerjaan yang kuat, hampir setengah dari kenaikan berasal dari sektor pemerintahan, sedangkan sektor swasta justru menunjukkan perlambatan dengan hanya 74.000 pekerjaan baru, terendah sejak Oktober tahun lalu. Ini memunculkan kekhawatiran bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan tenaga, membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Amerika Serikat mencabut pembatasan ekspor software chip ke Tiongkok sebagai bagian dari gencatan dagang, memungkinkan perusahaan seperti Synopsis, Cadence, dan Siemens EDA untuk kembali beroperasi secara penuh dalam waktu dekat. Langkah ini menandai fase normalisasi setelah ketegangan perdagangan yang sempat memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok teknologi AI dan menghambat kemajuan kesepakatan perdagangan pada Mei 2025. Pelonggaran ini disambut positif oleh pelaku industri semikonduktor karena membuka kembali akses pasar penting bagi penyedia Electronic Design Automation (EDA).

Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS telah mencapai trade deal dengan Vietnam, yang menetapkan tarif impor sebesar 20 % pada banyak produk Vietnam, jauh lebih rendah dari rencana awal 46 %. Selain itu, skema trans-shipments dari negara ketiga melalui Vietnam akan dikenai tarif hingga 40 %, sementara ekspor AS ke Vietnam akan mendapatkan akses pasar tanpa tarif, termasuk mobil berkapasitas besar. Kesepakatan ini memberikan kepastian bagi eksportir Asia Tenggara, meredakan ketegangan tarif menjelang tanggal 9 Juli, dan menegaskan kembali posisi AS dalam negosiasi dagang global.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa AS dan India kini berada di tahap akhir negosiasi tarif,  yang akan menurunkan tarif impor Amerika ke India dan mencegah kenaikan tarif India dari 10 % menjadi 27 % setelah 9 Juli. Diskusi mencakup isu penting seperti sparepart mobil, baja, dan produk pertanian, dan Washington menilai kesepakatan ini sebagai prioritas utama di atas Jepang, mengingat India disebut sebagai “very strategic ally”. India sendiri, meski mengakui kesusahan dalam negosiasi, optimis bahwa kedua belah pihak akan membuka jalan untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.

Pada Juni  2025 pasar kendaraan listrik di China makin panas akibat perang harga, XPeng (XPEV) mencatat pengiriman 34, 611 unit, naik +224 % dibanding tahun lalu, NIO mengirim 24, 925 unit (+17,5 % YoY), Li Auto mencapai 36 ,279 unit, sementara BYD mencatat rekor 377 ,628 kendaraan termasuk 206, 884 BEV (+10 % YoY) meski dengan diskon besar‑besaran hingga 34 %, dan Xiaomi meluncurkan SUV YU7 seharga sekitar US$  35 ribu yang meraih hampir 200  ribu pesanan dalam tiga menit dan 289  ribu dalam satu jam, tekanan ini menurunkan penjualan Tesla (TSLA) di China.

Pada Juni 2025 aktivitas pabrik di sebagian besar negara Asia masih mengalami kontraksi akibat ketidakpastian tarif AS, namun beberapa negara menunjukkan perbaikan ringan. Jepang mencatat ekspansi manufaktur pertama sejak 13 bulan terakhir dengan PMI mencapai 50.1, Korea Selatan mencatat perlambatan kontraksi, dan indeks Caixin China naik ke 50.4. Sementara Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Taiwan tetap stagnan atau menyusut. Penurunan manufaktur dunia ini sejalan dengan bahaya tarif yang mana akan kembali berjalan pada 8 Juli mendatang. Negara-negara masih menunggu jadwal untuk negosiasi dengan AS untuk kelanjutan kebijakan tarif.

Berita Emiten

TSLA

Penjualan Tesla di Inggris naik 12.0% YoY pada Juni , mencerminkan permintaan yang terus kuat untuk kendaraan listrik meskipun pasar otomotif secara keseluruhan melambat. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya minat konsumen pada EV dan ekspansi jaringan pengisian daya yang lebih luas, serta popularitas model seperti Model Y dan Model 3 di segmen retail. Hasil ini menunjukkan bahwa Tesla berhasil mempertahankan momentum positif di pasar yang semakin kompetitif. Meski demikian, di waktu yang sama penjualan mobil BYD meningkat 4x lipat.

META

Meta membentuk divisi baru bernama Meta Superintelligence Labs sebagai langkah besar dalam ambisi membangun sistem AI tingkat tinggi yang mampu menyamai atau melampaui kemampuan manusia. Mark Zuckerberg menunjuk Alexander Wang sebagai Chief AI Officer dan Nat Friedman sebagai co-leader, serta merekrut belasan pakar AI dari berbagai perusahaan besar seperti Anthropic, Google DeepMind, dan OpenAI. Meta juga mengakuisisi mayoritas saham Scale AI senilai US$ 14.3 miliar untuk memperkuat fondasi data dan talenta. Dengan ekspansi ini META diharapkan mampu bersaing dengan AI Superhouse lainnya seperti GOOG dan MSFT.

FSLR

First Solar mendapat momentum kuat dari strategi produksi dalam negeri Amerika Serikat yang kini semakin dilindungi oleh tarif impor sebesar 39% terhadap panel surya berbasis silikon kristalin dari Tiongkok dan Asia Tenggara. Dengan mengandalkan teknologi eksklusif berbasis CdTe yang tidak tergantung pada bahan baku dari Asia, perusahaan ini mampu mengamankan rantai pasok sekaligus meningkatkan efisiensi produksi. Keunggulan ini tidak hanya memperkuat posisi kompetitif First Solar di pasar energi terbarukan, tetapi juga memicu respons positif dari investor, tercermin dalam lonjakan harga saham yang signifikan.

Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi

Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi  untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi.  Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Artikel Terkait